Jendela Perempuan Adat

Previous slide
Next slide

Kata Kunci :Sulawesi Tengah

Masih segar di ingatan Agustien Virgin Hokey bagaimana raut wajah para tetua lembaga adat berurai air mata. Ya, kala itu 19 November 2021 merupakan hari pertama dari rangkaian tujuh hari ritual adat Megilu.

Sejumlah tokoh adat Pamona yang berada di sekitar Danau Poso berkumpul bersama masyarakat yang menjadi korban gusuran di sekitar Jembatan Tua Pamona. Semuanya punya satu tujuan; memohon pertolongan Sang Maha Kuasa.

Dalam ritual Megilu ini mereka melakukan doa-doa dalam bahasa Pamona secara bergantian. Semua memanjatkan doa yang memohon pertolongan sekiranya diturunkan mukjizat agar Jembatan Yondo mPamona, nama jembatan tua Pamona, urung dibongkar.

Ani adalah perempuan Suku Pamona yang menghabiskan 10 tahun hidupnya duduk sebagai pengurus majelis adat di Desa Tampemadoro, Kecamatan Lage, Kabupaten Poso. Ia menjadi aktivis Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) sejak 2007 menjelaskan majelis adat Suku Pamona bersifat egaliter.

Ani berniat mengabdikan diri untuk membagikan pengetahuannya tentang adat dan juga pemeliharaan lingkungan melalui sekolah ini. Dia akan mentransfer ilmu dan kearifan nenek moyang yang diketahuinya kepada generasi muda di Kabupaten Poso.

Selain itu, Ani juga sedang menikmati proses berkebun. Ia membangun kebun obat-obatan dan juga menanam berbagai jenis pangan. Dia ingin mengajarkan dan mendorong masyarakat sekitarnya agar bisa mempertahankan obat-obatan dan pangan lokal.

Intje Mawar Lasasi Abdullah adalah perempuan kelahiran 8 November 1943. Dikenal sebagai salah satu veteran penari dan budayawan perempuan. Berbagai jenis kreasi tari yang berasal dari Sulteng tak lepas dari kontribusinya. Sejak akhir 1960-an, Intje Mawar yang pernah berguru tari di Padepokan Seni Bagong Kussudiardja, Yogyakarta, berusaha menggali dan menciptakan tarian yang diangkat dari upacara adat Suku Kaili.